Protected: PUTRI ANGGREYNI (2)

9 06 2013

This post is password protected. To view it please enter your password below:





ESTIMASI MORTALITAS & PENDUDUK STABIL

28 04 2013

Berikut merupakan karya semi-ilmiah :lol: yang saya hasilkan yaitu mengenai angka kematian dan penduduk stabil di Provinsi Sulawesi Tengah menurut data Sensus Penduduk 2010. Bagaimana hasil dan pembahasannya ? tanpa basi-basa, berikut attachmentnya untuk dibaca dan dipahami dengan seksama dalam tempo secukup – cukupnya :mrgreen: .





NOT YET FULLY

28 04 2013

Official(Before you read this, please define the difference between statistic and statistics).Alhamdulillah, saya bersyukur Allah memberikan kesempatan kepada saya (dan teman – teman) untuk merasakan sesuatu yang sebelumnya hanya terpendam dalam benak pikiran, hingga akhirnya sekarang saya sudah mengalaminya dalam Praktik Kerja Lapangan :-) . What’s that ? Statistik. Statistik memang menjadi sesuatu yang terkesan “terpaksa harus dipelajari” oleh sebagian orang, tetapi juga berslogan “memang harus dipelajari” oleh kalangan statistisi (dalam hal ini katakan saja mereka yang berkuliah di FMIPA Jurusan/Program Studi Statistik :lol: ). Statistik dalam bahasa awam merupakan perluasan matematika yang diterapkan di segala bidang, seperti ekonomi, sosial, kependudukan, komputasi, kesehatan, dst dengan tujuan untuk menarik kesimpulan dari suatu fenomena yang terjadi pada populasi. Mayoritas mengatakan statistik rumit karena terlalu banyak penghitungan, rumus/fungsi/formula, dsb. Tidak salah, tetapi itu masih secara teoritis. Hal yang sebenarnya menjadi momok adalah statistics, yaitu terkait dengan bagaimana melaksanakan suatu program kerja lapangan seperti perencanaan, persiapan, pengumpulan data, dan seterusnya. Kalangan pencinta statistik mungkin cukup mengalami kesulitan dalam memahami statistik secara teoritis terkait seperti proses penghitungan dan rumus/fungsi/formula. Not yet fully, belum sepenuhnya. Saya (dan teman – teman) akhirnya menyadari bahwa statistik itu tidak hanya rumit dari segi teoritis, tetapi juga harus bisa menjawab pertanyaan statistics, yaitu : bagaimana cara memperoleh dan mengumpulkan data yang valid dan reliabel ? Dalam hal ini yaitu bagaimana pengorganisasian ketika di lapangan, terlebih jika kegiatan yang dilaksanakan adalah dalam scope besar seperti Sensus Penduduk. So, we can take conclusion that mempelajari statistik bukan hanya sekadar mengetahui bagaimana menghitung dan menganalisis, tetapi juga lebih penting adalah statistics.





ISENG BERHADIAH

26 03 2013

gambarSelagi berada dalam fase istirahat pasca PKL (Praktik Kerja Lapangan) 52 Sekolah Tinggi Ilmu Statistik di Kota Semarang, saya menyempatkan diri untuk kembali ke tanah kelahiran selama seminggu. Hari ini (26/03/2013) ba’da Maghrib saya bersilaturahmi ke Sony Sugema College yang merupakan salah satu lembaga tempat saya menimba ilmu, menambah pengalaman, serta menambah pertemanan. Ketika itu, saya disuguhkan (lebih tepatnya diuji) soal Try Out Matematika kelas IX, dan bagi saya soal ini cukup menarik untuk sahabat yang sekarang sedang duduk anteng di kelas IX seraya menunggu Ujian Nasional :mrgreen: . Question : berapa luas daerah yang diarsir (warna abu – abu) dari gambar disamping jika diketahui luas daerah yang tidak diarsir adalah 150 cm2  ? answer is twenty three, How to solve it ? bekicot.

Jika dijawab secara bahasa non-matematis, sebagai berikut. Hitung luas persegi ABCD dan belah ketupat EFGH, kemudian jumlahkan. Setelah itu, kurangi hasil penjumlahan tersebut dengan 150. Hasil dari pengurangan tersebut dibagi dengan dua, and you got it ! :cool: . (Notabene : Untuk pemahaman lebih lanjut mengapa bisa begini dan mengapa harus begitu. Find that your self, use your brain)





WHEN WINNER BE LOSER

24 03 2013

winner
Hampir setiap orang di muka bumi mempunyai ambisi yang kuat untuk menjadi pemenang. Menang secara terminologi adalah pencapaian yang tidak harus selalu dalam sebuah turnamen, perlombaan, kompetisi, dan sebagainya. Apapun yang menurut seseorang (atau sekelompok orang) jika dia mencapai yang dia kehendaki, maka orang itu setidaknya menjadi pemenang bagi dirinya sendiri. Nah, sekarang bagaimana jika the winner yang sudah mencapai apa yang dia kehendaki, tetapi ternyata belum atau bahkan tidak bisa mengimplementasikan atau beradaptasi (probing) dengan apa yang telah dia capai. Itulah saat – saat dimana the winner be a loser, dan mayoritas hal ini terjadi pada orang – orang yang menggunakan “lintasan shortcut“. Jadi the real winner adalah orang yang berhasil mencapai apa yang dikehendaki “tanpa menyalahi aturan”, walaupun secara teknis tidak harus menjadi juara 1 :lol: .





NOT (ONLY) GOVERNMENT’S HOMEWORK

8 03 2013

Assalamu’alaikum :) Salam blogger bagi rekan – rekan semua.

Alhamdulillah, pada bulan ketiga di tahun 2013 ini saya akhirnya bisa melepas rindu untuk mulai memanjakan jari saya di keyboard dalam rangka kembali melaksanakan rutinitas (nyaris bukan lagi sebagai rutinitas) blogging. Singkat saja, karena dalam  dua bulan terakhir ini saya berada dalam posisi yang cukup sulit untuk melakukan aktivitas blogging, dan pada kesempatan ini pun saya berusaha meluangkan sedikit waktu untuk blogging-ria karena  2 atau 3 hari lagi (kami) akan berangkat ke Semarang dalam rangka Praktik Kerja Lapangan (PKL) 52 Sekolah Tinggi Ilmu Statistik.

Read the rest of this entry »





DEMOKRASI ? I’M NOT SURE

22 12 2012

demokrasi ? I'm not suredemokrasi ? I'm not sureEntah apakah ini pemikiran saya yang terlalu radikal atau memang ini sebuah ketidaktahuan masyarakat yang harusnya mereka ketahui. Saya menuliskan posting ini sebagai akibat dari apa yang saya dengarkan dari kolega saya di kampus, sebut saja Raja. Bisa dikatakan dia sebagai kolega saya yang sangat memahami ilmu agama. Berikut kejadiannya, suatu hari kampus kami mengadakan pemilihan ketua dan wakil ketua senat mahasiswa. Ketika di kelas saya menanyakan kepada Raja, “Raja, nanti setelah kelas selesai kita nyontreng ya“. Dengan tegasnya Raja menjawab bahwa ia tidak akan ikut memilih dalam rangka pesta demokrasi tersebut. Dia mengatakan bahwa selama ini kita sudah dibodohi oleh demokrasi. Dia memberikan contoh konkrit yang memberikan judge bahwa demokrasi itu salah. Contoh yang ia berikan sebagai berikut.

Jika terdapat dua calon pemimpin, kemudian diadakan proses pemilihan ala demokrasi yaitu dengan pemungutan suara (asumsi : tidak terjadi kecurangan dalam proses pemilihan ini, mulai dari awal pelaksanaan hingga keputusan). Katakanlah bahwa calon pertama memperoleh suara dari 4 orang profesor yang sudah mempertimbangkan secara matang mengapa mereka memilih calon pertama. Sedangkan calon kedua memperoleh suara dari 7 orang preman karena menganggap bahwa karakteristik calon kedua mewakili sifat mereka. Dengan demokrasi, siapa yang menang ? hmhm, think your self :cry: . Dia mengatakan bahwa dalam agama yang dia anut (termasuk saya) tidak ada mengajarkan sistem demokrasi dengan alasan seperti contoh diatas. Karena sistem demokrasi tidak pernah menghasilkan suatu kepastian yang menyatakan bahwa pemimpin yang dipilih adalah pemimpin yang memang layak, apakah kelayakan dan abilitas-nya sebagai pemimpin itu sudah cukup terwakili dengan suara/vote yang ia peroleh ? it’s complicated, think seriously. Sorry if it’s too mainstream extremely :cool:








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers