Selama Liburan Semester I ini, sepertinya saya lagi-lagi menafsirkan beberapa hal yang sangat penting dan elegan bagi hidup saya.Saya belajar dari hal biasa saja dan hanya dari lingkungan keluarga.Di rumah, saya selalu di suruh menjaga keponakan/kemenakan perempuan yang masih berumur 2 tahun 3 bulan.Ayah dari kemenakan saya itu sekarang tidak ikut berlibur ke Kota Palangka Raya nun cantik ini, karena harus melaksanakan tugas aktif yang wajib dilakukan.Jadi, kemenakan saya itu hanya datang bersama Ibunya saja.Untung tak diuntung, Ibunya berlibur ke sini sepertinya sudah mempunyai tujuan utama sebagai kaum hawa, yaitu shopping.
Jadi, disinilah kisah mulanya saya menafsirkan judul di atas.Saya disuruh untuk menjaga, mengasuh, menemani, dan segala hal yang menyangkut kebaikan tersendiri bagi anak tersebut.Mulai dari memandikan, memberi makan, menidurkan dengan dentingan suara saya yang false, mengajak jalan-jalan keliling komplek, membuatkan susu, de el el.Semula saya berpikir, sepertinya ini menjadi liburan yang menderita.Namun, dibalik layar kekacauan pikiran, saya mendapatkan hikmah bahwa saat ini sepertinya saya sedang berperan untuk menjadi seorang Ayah bagi anak tersebut.Saya menemani dan memanjakannya.Dari situ saya mulai mengambil kesimpulan bahwa, saya ini sedang berperan untuk menjadi aktor utama di masa depan.Dan saya mulai mengembangkan dan menelaah lebih jauh, bahwa hidup ini awal mulanya adalah sebagai peran pembantu untuk menjadi peran utama.Kehidupan itu dramatis.Jadi, waktu itu adalah peran hidup kita di mana kita bisa menjadi seseorang yang tak disangka-sangka.Kita sebagai manusia harus prospek menerima semua yang diperankan dalam hidup ini.Dan saat ini kita juga sedang berperan untuk lebih berkembang.Berkembang yang seperti apa ? berkembang dengan dikawali adanya kemajuan daya pikir dan respon cepat terhadap sesuatu.MANUSIA ITU ADALAH PEMERAN YANG PROSPEKTIF DALAM SUATU DRAMA, DAN DIA HARUS LIHAI MEMAINKANNYA.










The last comment